Archive for the 'Ant The Storyteller' Category

16
May

My Heart Breaks For The First Time

Hello, my darling

How are you?

Just try to tell you, now there’s only two of us in here

You know…I remember when we first met
You just like a goddess that sent from above
You just like one heavy rain on a deserted land

Your face…

Extremely fabulous God-made
Far Softer than any softer silk
God had made it perfect for you

Please…just open your eyes, my darling…

I refuse to let you die…

14
May

Im In Love For The Billion Times

As my body is lying still
And the ending is drawing near
There is nothing I can feel
I am blind and I am kneel

Feels the blood run to my head
Feels my heart beating too fast
She’s up there at the top of the stair
Yell at me to take her hand

12
Mar

human…

Gaji pertama emang sangat berkesan, sampai ada yang bilang seindah malam pertama * emang bener ya!? *, hari2 waktu menunggu menjelang nrima uang dihiasi oleh barang2 apa aja yang mo dibeli…”mo beli jaket ah…”, “aduh, sepatu udah bolong, beli sepatu aja de.”, “bulan malem ini cantik, beli ah…” * halah *
tapi ketika waktu penerimaan uang itu tiba, mendadak menjadi orang yang paling pelit sedunia (kecuali buat 2,5% :p )…angan2 barang yang pada mo dibeli tiba2 terbantahkan dengan kata2, “waduh, kok mahal ya, ntar abis lagi uangnya…”

Hal yang sama terjadi pada bulan puasa, sebelum buka pasti bercita2 den berkeinginan baja untuk melahap semua makanan yang ada di meja, malah kalo bisa se-meja2nya skalian, ato kalo perlu yang nyiapin makanan juga dilahap * huehuehue, just kiddin’ mum *,
tapi begitu bedug telah berkumandang minum 1 gelas sirup + makan 1 pisang goreng aja udah kenyangnya minta ampyun…hehehe…

human…

eh, masi pada inget tentang barang apa yang dibeli pada saat gajian pertama kali?

* buat beli pulsaaaaa…!!!! :D *

06
Feb

Bagaimana Caranya Memeluk Seekor Landak ?

Ajeng menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan.

Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Ajeng masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya.

Pukul 18.30. Tinnn……. …. Tiiiinnnnn.. ……… … !! Ajeng kecil melompat girang!
Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga.

Bagi si kecil Ajeng juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Ajeng cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang. “Mama, mama…. Mama, mama….” Ajeng menggerak-gerakkan tangan Mama.

Mama diam saja. Dengan cemas Ajeng bertanya, “Mama sakit ya? Mananya yang sakit Mam?” Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. Ajeng makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Ajeng ambilin obat ya? Ya? Ya?”

Tiba-tiba…
“Ajeng!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!” Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Ajeng mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Ajeng salah apa? Ajeng sayang Mama… Ajeng salah apa? Takut-takut, Ajeng menyingkir ke sudut ruangan.

Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Ajeng terus bertanya-tanya: Mama, Ajeng salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Ajeng? Ajeng mengganggu Mama? Ajeng tidak boleh sayang Mama? Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Ajeng merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Ajeng tidak lagi kecil. Ajeng bertambah tinggi. Ajeng remaja. Ajeng mulai beranjak menuju dewasa.

TIN TIIIN ! Mama pulang. Papa pulang. Ajeng menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. “Ajeng mana?”. “Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku?

Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Ajeng mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh.
Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.

Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

Taken from : Diary-Rila

07
Jan

Bola untuk Kamila

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan
pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah.
Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali
kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi
pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur
melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera
dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena
Lukman dan Naila mau hadir menjadi sa ksi. Umurku
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di
bawahku. Cita-cita kami sederhana,ingin hidup
bahagia.

22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk
biaya makan keluargaku. Ya,keluargaku. Karena
sekarang aku sudah punya momongan. Seorang
putri,kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa
menjadi perempuan sempurna,maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih
merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu.
Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku
merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib
kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau
menerima kami. Ya sudahlah.
Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci
mereka. Aku hanya
yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang
senang berlari-lari,
melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi
lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
“Horeee, Iya bisa terbang”. Begitulah dia memanggil
namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan
Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika
sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga,gelas, piring, atau meja kaca.
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah.
Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai,
boneka kayu yang
dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa
semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pu lang
lebih awal dari
pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy
apalagi jadi pemain bola seperti yang sering
diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi
pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus
minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling
tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore.
Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak
kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya
jadi pemain bola.”

17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di
jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut,
Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu
bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan
bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari
sabtu dan a ku akan menjemputnyanya dari sekolah.
Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang
jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”. Sebuah
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban
besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku
sadar, dua kakiku sudah diamputasi.
Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam
menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari
perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis
sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak
belikan ia bola!”

15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang
tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak
mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya
bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang
sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah
yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa
berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk
mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak
diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan
akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku
sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu
tak terdengar kabar lagi. Aku harus
mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku
memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila
bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan,
mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan denga n
dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan.
Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu
dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku
mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus
kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup
tegar.

10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek
kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke
dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering
jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku
cantik, seperti ibunya.
“Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu
kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang
sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
“Sabar ya, Nak!” hiburku.
“Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!”
pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan
bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu
sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku.
Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku
karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania,
istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah
bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak
mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih
menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat
aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi
TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di
sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya
karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua,
tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku
beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku
uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan
pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha
kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku
tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa
agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir
tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang
pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak
suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya
tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal
suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya
yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang.
Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran
tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu
menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku
jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang
baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu
memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap
bulan Ramadhan aku
harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga
beduk manghrib berbunyi.Kini anakku lebih pandai
menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian
pemerintahan Malaysia,kabarnya anakku ditahan. Dan
dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti
membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat
kabar ini. Aku menangis,aku tak percaya. Kamilaku
yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula
kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum
dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut.
Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis.
Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum
mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti
bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung
sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain
menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak
belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik?
Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan
aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke
Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat
terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya
sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi
apa daya kakiku tak ada.
Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia
berhambur ke arahku,
memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi.
Andai bisa ditukar,aku ingin menggantikannya.
“Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya
tidak mau. Iya
dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari
jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan,
Pak!” Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib
anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku
bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar
anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga
orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon
keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak
mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam
bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita
itu akan hadir
melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia
sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak
ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari
hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang
diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini
tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah
yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka,
aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.
Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang
samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang
kukenal.
“Kania?”
“Mas Har, kau … !”
Continue reading ‘Bola untuk Kamila’